Air zam-zam bukan sekadar air biasa. Ia adalah air yang penuh keberkahan, yang telah menjadi bagian dari sejarah panjang umat Islam sejak zaman Nabi Ibrahim AS dan Siti Hajar.
Bagi para jamaah umrah dan haji, meminum air zam-zam bukan hanya untuk melepas dahaga, tetapi juga menjadi momen spiritual yang penuh makna. Namun, tidak semua orang mengetahui bahwa ada adab-adab tertentu saat meminumnya.
Bahkan, Rasulullah ﷺ bersabda: “Air zam-zam itu sesuai dengan niat orang yang meminumnya.” (HR. Ibnu Majah No. 3062, dinilai hasan oleh sebagian ulama). Oleh karena itu, meminumnya pun tidak boleh sembarangan. Ada adab-adab yang dianjurkan agar keberkahannya semakin sempurna.
Berikut penjelasannya:

Berniat dan Berdoa Sebelum Meminum
Salah satu keistimewaan terbesar air zam-zam adalah bahwa ia tidak hanya menghilangkan dahaga, tetapi juga menjadi wasilah terkabulnya doa. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Air zam-zam itu sesuai dengan niat orang yang meminumnya.” (HR. Ibnu Majah No. 3062)
Hadits ini bukan sekadar anjuran, tetapi sebuah peluang besar yang sering kali tidak dimaksimalkan oleh jamaah. Banyak orang meminum air zam-zam hanya sebagai rutinitas, tanpa menghadirkan niat dan harapan di dalam hati.
Padahal, para ulama seperti Ibnu Hajar Al-Asqalani menjelaskan bahwa hadits ini mencakup berbagai kebutuhan hidup, baik dunia maupun akhirat. Artinya, saat meminum air zam-zam, seseorang bisa berniat:
memohon kesembuhan dari penyakit
memohon kelapangan rezeki
memohon keteguhan iman
bahkan memohon kemudahan dalam urusan hidup
Momen ini adalah salah satu waktu yang sangat personal antara seorang hamba dengan Tuhannya. Oleh karena itu, hadirkan doa dengan penuh keyakinan, seolah-olah itulah saat di mana doa Anda benar-benar didengar.
Menghadap Ke Kiblat Saat Minum
Menghadap kiblat bukan hanya dilakukan saat shalat, tetapi juga merupakan bentuk adab dalam berbagai ibadah, termasuk saat meminum air zam-zam.
Diriwayatkan bahwa Abdullah bin Abbas ketika meminum air zam-zam, beliau:
berdiri
menghadap kiblat
kemudian berdoa dengan sungguh-sungguh
(Riwayat Al-Hakim An-Naisaburi dalam Al-Mustadrak)
Hal ini menunjukkan bahwa para sahabat tidak memandang remeh momen meminum air zam-zam. Mereka menjadikannya sebagai bagian dari ibadah yang penuh kesadaran.
Menghadap kiblat saat minum mengandung makna:
menghadapkan diri sepenuhnya kepada Allah
menghadirkan kekhusyukan dalam hati
serta menunjukkan kesungguhan dalam berdoa
Ini adalah adab yang sederhana, tetapi jika dilakukan dengan penuh kesadaran, dapat mengubah aktivitas minum menjadi momen spiritual yang mendalam.
Membaca Basmalah dan Menggunakan Tangan Kanan
Dalam Islam, hal-hal kecil sekalipun memiliki nilai ibadah jika dilakukan sesuai sunnah. Termasuk dalam hal makan dan minum.
Rasulullah ﷺ bersabda: “Apabila salah seorang di antara kalian makan, maka hendaklah ia makan dengan tangan kanannya…” (HR. Muslim No. 2020)
Adab ini juga berlaku saat meminum air zam-zam. Menggunakan tangan kanan bukan hanya sekadar kebiasaan, tetapi merupakan bentuk ketaatan dan kecintaan terhadap sunnah Rasulullah ﷺ.
Selain itu, dianjurkan untuk membaca “Bismillah” sebelum minum. Ini adalah bentuk pengakuan bahwa setiap nikmat berasal dari Allah.
Menggabungkan dua hal ini—basmalah dan tangan kanan—memberikan makna:
memulai dengan mengingat Allah
mengikuti tuntunan Rasul
serta menjaga adab dalam setiap aktivitas
Hal kecil ini sering dianggap sepele, tetapi justru di situlah letak keberkahan yang sering luput dari perhatian.
Minum dalam Tiga Kali Tegukan
Rasulullah ﷺ memiliki kebiasaan minum dengan tiga kali tegukan, sebagaimana disebutkan dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim.
Beliau tidak minum sekaligus, melainkan:
minum
berhenti sejenak
kemudian melanjutkan kembali
Secara medis, cara ini lebih baik untuk tubuh karena:
memberi waktu bagi sistem pencernaan
mencegah tersedak
dan membantu penyerapan air secara optimal
Namun, dari sisi spiritual, ada makna yang lebih dalam:
mengajarkan ketenangan
melatih kesabaran
serta menghadirkan kesadaran dalam setiap tegukan
Ketika air yang diminum adalah air zam-zam, maka setiap tegukan seharusnya tidak terburu-buru. Nikmati, resapi, dan hadirkan rasa syukur dalam setiap tetesnya.
Minum Hingga Kenyang
Air zam-zam memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki air biasa. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Perbedaan antara kita dan orang-orang munafik adalah mereka tidak minum air zam-zam sampai kenyang.” (HR. Ibnu Majah No. 1017)
Hadits ini menunjukkan bahwa minum hingga kenyang bukan hanya diperbolehkan, tetapi juga dianjurkan sebagai bentuk keyakinan terhadap keberkahan air zam-zam.
Para ulama menjelaskan bahwa:
rasa kenyang dari air zam-zam adalah tanda keberkahan
dan bentuk kepercayaan bahwa air tersebut membawa manfaat
Namun, penting untuk tetap bijak:
tidak memaksakan diri
menyesuaikan dengan kondisi tubuh
Minum hingga kenyang bukan sekadar fisik, tetapi juga simbol keyakinan bahwa apa yang Allah berikan melalui air zam-zam adalah sesuatu yang istimewa.
Mengucapkan Alhamdulillah Setelah Minum
Setelah menikmati air zam-zam, adab yang sering terlupakan adalah mengucapkan rasa syukur.
Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya Allah ridha kepada seorang hamba yang makan lalu ia memuji-Nya…” (HR. Muslim No. 2734)
Mengucapkan “Alhamdulillah” bukan hanya ucapan, tetapi pengakuan bahwa:
kita tidak memiliki apa-apa tanpa izin Allah
bahkan seteguk air pun adalah nikmat
Dalam konteks zam-zam, rasa syukur ini menjadi lebih dalam karena:
tidak semua orang bisa datang ke Tanah Suci
tidak semua orang bisa merasakan langsung air zam-zam
Meminum air zam-zam adalah momen yang tidak semua orang dapatkan. Ia adalah perpaduan antara sejarah, ibadah, dan doa yang menyatu dalam satu tegukan. Dengan memahami adab-adabnya, semoga setiap tegukan air zam-zam yang kita minum menjadi sumber keberkahan, penguat iman serta jalan terkabulnya doa-doa kita
Bagi Anda yang merindukan pengalaman spiritual ini, pastikan perjalanan ibadah Anda dipersiapkan dengan baik, agar setiap amalan tidak hanya dilakukan, tetapi juga dipahami maknanya.