Haji Mabrur Menurut Al-Qur'an, Hadits, dan Para Ulama
Arsip Digital • Panduan Haji dan Umroh

Haji Mabrur Menurut Al-Qur'an, Hadits, dan Para Ulama

Aba Digital Library
Penulis Official Aba
Tahun 2026

Setiap muslim yang menunaikan ibadah haji tentu berharap memperoleh predikat haji mabrur. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan haji mabrur? Apakah cukup dengan menyelesaikan seluruh rangkaian manasik haji, atau ada ukuran lain yang menjadi penilaian di sisi Allah SWT?

Dalam Islam, haji mabrur merupakan haji yang diterima oleh Allah SWT, dilaksanakan dengan niat yang ikhlas, sesuai tuntunan syariat, serta memberikan perubahan positif pada perilaku dan ketakwaan seseorang setelah kembali dari Tanah Suci. Oleh karena itu, predikat haji mabrur bukan sekadar gelar yang disematkan kepada seseorang setelah pulang haji, melainkan sebuah kemuliaan yang harus diupayakan melalui keikhlasan dan ketaatan kepada Allah SWT.

Haji mabrur menurut Al-qur'an, Hadist dan Para ulama

Haji Mabrur Menurut Al-Qur'an

Meskipun istilah "haji mabrur" tidak disebutkan secara langsung dalam Al-Qur'an, Allah SWT menjelaskan karakteristik haji yang diterima melalui firman-Nya:

"Haji adalah beberapa bulan yang telah dimaklumi. Barang siapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats (berkata atau berbuat yang mengarah kepada hubungan suami istri), berbuat fasik, dan berbantah-bantahan dalam masa mengerjakan haji." (QS. Al-Baqarah: 197)

Ayat ini menunjukkan bahwa salah satu ciri haji yang diterima adalah terjaganya akhlak, lisan, dan perbuatan selama menjalankan ibadah haji. Seorang jamaah tidak hanya dituntut melaksanakan rukun dan wajib haji, tetapi juga menjaga dirinya dari maksiat dan perilaku yang dapat mengurangi kesempurnaan ibadah.

Allah SWT juga berfirman:

"Dan berbekallah, sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa." (QS. Al-Baqarah: 197)

Ayat ini menegaskan bahwa tujuan utama ibadah haji adalah meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. Oleh karena itu, haji yang mabrur adalah haji yang melahirkan pribadi yang lebih bertakwa setelah kembali ke tanah air.

Haji Mabrur Menurut Hadits Rasulullah ﷺ

Keutamaan haji mabrur dijelaskan secara tegas dalam hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim.

Rasulullah ﷺ bersabda:

"Umrah ke umrah berikutnya menjadi penghapus dosa di antara keduanya, dan haji yang mabrur tidak ada balasan baginya selain surga." (HR. Bukhari No. 1773 dan Muslim No. 1349)

Hadits ini menunjukkan betapa agungnya kedudukan haji mabrur. Bahkan Rasulullah ﷺ menyebutkan bahwa balasan bagi haji mabrur adalah surga.

Dalam hadits lain, Rasulullah ﷺ bersabda:

"Barang siapa menunaikan haji karena Allah, lalu tidak berkata kotor dan tidak berbuat fasik, maka ia akan kembali seperti pada hari dilahirkan oleh ibunya." (HR. Bukhari No. 1521 dan Muslim No. 1350)

Hadits ini menjelaskan bahwa haji yang dilakukan dengan ikhlas, serta dijaga dari dosa dan maksiat, dapat menjadi sebab diampuninya dosa-dosa seorang hamba.

Penjelasan Haji Mabrur Menurut Para Ulama

Para ulama memberikan penjelasan yang lebih rinci mengenai makna haji mabrur.

Imam An-Nawawi Rahimahullah

Menurut Imam An-Nawawi, haji mabrur adalah haji yang tidak tercampuri dosa, riya, atau perbuatan maksiat selama pelaksanaannya. Haji tersebut dilakukan dengan ikhlas semata-mata karena Allah SWT dan sesuai dengan tuntunan Rasulullah ﷺ.

Imam Al-Qurthubi Rahimahullah

Imam Al-Qurthubi menjelaskan bahwa haji mabrur adalah haji yang diterima oleh Allah SWT. Tanda diterimanya haji tersebut terlihat dari perubahan perilaku seseorang menjadi lebih baik setelah pulang dari Tanah Suci.

Al-Hasan Al-Bashri Rahimahullah

Beliau menyatakan bahwa tanda haji mabrur adalah ketika seseorang kembali dalam keadaan zuhud terhadap dunia, lebih mencintai akhirat, dan semakin rajin beramal saleh.

Dari berbagai pendapat ulama tersebut dapat disimpulkan bahwa ukuran haji mabrur tidak hanya dilihat saat berada di Makkah dan Madinah, tetapi juga dari perubahan akhlak dan ketakwaan setelah kembali ke kehidupan sehari-hari.

Tanda-Tanda Haji Mabrur

Meskipun hanya Allah SWT yang mengetahui apakah suatu ibadah diterima atau tidak, para ulama menyebutkan beberapa tanda yang dapat menjadi indikasi haji mabrur, antara lain:

  • Semakin taat kepada Allah SWT setelah pulang haji.

  • Menjaga shalat wajib dengan lebih baik.

  • Meninggalkan kebiasaan maksiat dan dosa.

  • Memiliki akhlak yang lebih santun kepada keluarga dan masyarakat.

  • Gemar bersedekah dan membantu sesama.

  • Semakin mencintai Al-Qur'an dan majelis ilmu.

  • Menjaga istiqamah dalam beribadah.

Apabila setelah haji seseorang mengalami perubahan ke arah yang lebih baik, maka hal tersebut termasuk harapan baik bahwa hajinya diterima oleh Allah SWT.

Haji mabrur adalah impian setiap jamaah yang menunaikan rukun Islam kelima. Menurut Al-Qur'an, hadits, dan penjelasan para ulama, haji mabrur bukan hanya tentang sempurnanya pelaksanaan manasik, tetapi juga tentang ketakwaan, keikhlasan, serta perubahan akhlak yang lebih baik setelah pulang dari Tanah Suci.

Karena itu, setiap jamaah hendaknya tidak hanya fokus pada pelaksanaan ibadah selama di Makkah dan Madinah, tetapi juga berusaha menjaga nilai-nilai haji dalam kehidupan sehari-hari. Semoga Allah SWT menerima ibadah haji kaum muslimin dan menganugerahkan predikat haji mabrur yang balasannya tidak lain adalah surga.