Ibadah sa’i dalam rangkaian umroh bukan sekadar berjalan bolak-balik antara Bukit Shafa dan Marwah. Sa’i merupakan simbol perjuangan, optimisme, dan keyakinan yang mendalam kepada Allah SWT. Di balik langkah-langkah tersebut tersimpan pelajaran besar tentang kehidupan, usaha, dan kesabaran yang menjadi fondasi utama dalam perjalanan manusia.

Allah SWT mengabadikan sa’i dalam Al-Qur’an sebagai bagian dari syiar agung Islam. Allah berfirman:
"Sesungguhnya Shafa dan Marwah adalah sebagian dari syiar Allah. Maka barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau berumrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa’i antara keduanya."
(QS. Al-Baqarah: 158)
Ayat ini menegaskan bahwa sa’i bukan sekadar ritual fisik, tetapi bagian dari syiar besar yang mengandung makna spiritual yang mendalam. Sa’i merupakan refleksi dari kisah agung Siti Hajar yang berlari antara Shafa dan Marwah demi mencari air untuk putranya, Nabi Ismail AS. Dalam kondisi penuh keterbatasan, tanpa kepastian, dan tanpa bantuan manusia, Siti Hajar tetap berusaha dengan penuh keyakinan kepada Allah SWT.
Dari kisah ini, sa’i mengajarkan bahwa usaha adalah bagian dari iman. Seseorang tidak cukup hanya berdoa, tetapi juga harus bergerak, berusaha, dan berjuang.
Sa’i memberikan makna sikap optimistis dan usaha yang keras serta penuh kesabaran dan tawakkal kepada Allah SWT. Setiap langkah sa’i mengajarkan bahwa kehidupan tidak pernah lepas dari perjuangan. Namun perjuangan yang dilandasi keyakinan kepada Allah SWT akan melahirkan harapan dan pertolongan yang tidak terduga.
Dalam tuntunan manasik haji dan umroh yang diterbitkan oleh Kementerian Agama Republik Indonesia dijelaskan bahwa sa’i mengandung pesan penting tentang kerja keras, optimisme, dan kesungguhan dalam menjalani kehidupan. Sa’i mengajarkan manusia tentang pentingnya berusaha dengan sekuat tenaga. Tanpa usaha, kebahagiaan tidak akan pernah tercapai.
Menariknya, sa’i dilakukan sebanyak tujuh kali. Angka tujuh ini memiliki makna simbolik yang mendalam. Hari-hari kehidupan manusia dalam satu minggu berjumlah tujuh hari. Hal ini memberikan pesan bahwa setiap hari dalam kehidupan manusia harus diisi dengan usaha, kerja keras, dan kesungguhan dalam menjalani kehidupan.
Sa’i mengajarkan bahwa kehidupan bukan tentang menunggu keajaiban, tetapi tentang menciptakan keajaiban melalui usaha yang sungguh-sungguh. Ketika seseorang berusaha dengan penuh kesabaran dan tawakkal, maka pertolongan Allah akan datang pada waktu yang paling tepat, sebagaimana air zamzam yang muncul setelah perjuangan panjang Siti Hajar.
Rasulullah SAW juga memberikan pesan penting tentang keseimbangan antara usaha dan tawakkal. Beliau bersabda:
"Ikatlah untamu, kemudian bertawakkallah kepada Allah."
(HR. Tirmidzi)
Hadis ini menegaskan bahwa tawakkal bukan berarti pasrah tanpa usaha. Tawakkal justru harus didahului dengan kerja keras dan ikhtiar maksimal. Inilah makna sa’i yang sesungguhnya, yaitu berusaha sepenuh hati sambil menyerahkan hasilnya kepada Allah SWT.
Dalam kehidupan modern, makna sa’i sangat relevan, khususnya dalam dunia pekerjaan dan bisnis. Seseorang yang menjalani usaha harus memulainya dengan niat yang suci, cara yang baik, dan proses yang bersih. Sa’i mengajarkan bahwa keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh hasil, tetapi juga oleh proses yang penuh keikhlasan dan kesungguhan.
Sa’i juga mengajarkan sikap optimistis dalam menghadapi berbagai tantangan hidup. Dalam setiap langkah antara Shafa dan Marwah, jamaah tidak pernah tahu kapan pertolongan Allah akan datang. Namun mereka tetap berjalan, tetap berusaha, dan tetap berharap. Inilah filosofi kehidupan yang sangat mendalam.
Optimisme, kerja keras, kesungguhan, keikhlasan, kesabaran, dan tawakkal merupakan nilai-nilai utama yang terkandung dalam sa’i. Nilai-nilai ini tidak hanya relevan dalam ibadah, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam keluarga, pekerjaan, dan bisnis.
Bagi seorang Muslim, sa’i menjadi pengingat bahwa tidak ada keberhasilan tanpa perjuangan. Tidak ada kebahagiaan tanpa usaha. Dan tidak ada pertolongan Allah tanpa kesabaran dan tawakkal.
Ketika seorang jamaah berjalan antara Shafa dan Marwah, sesungguhnya ia sedang mengulang kembali sejarah perjuangan yang penuh makna. Ia sedang belajar tentang kesabaran, tentang keyakinan, dan tentang optimisme dalam menghadapi kehidupan.
Sa’i bukan sekadar langkah kaki. Sa’i adalah langkah menuju harapan. Sa’i adalah perjalanan menuju pertolongan Allah. Sa’i adalah simbol bahwa setiap usaha yang dilakukan dengan penuh keyakinan akan berbuah keberkahan.
Inilah makna besar sa’i dalam umroh. Sebuah perjalanan yang mengajarkan bahwa kehidupan terbaik adalah kehidupan yang diisi dengan usaha maksimal, hati yang optimis, dan tawakkal yang penuh kepada Allah SWT.
