Rahasia di Balik Istilah Umroh Akbar: Sejarah, Hikmah, dan Spiritualitasnya
Arsip Digital • Panduan Haji dan Umroh

Rahasia di Balik Istilah Umroh Akbar: Sejarah, Hikmah, dan Spiritualitasnya

Aba Digital Library
Kembali Ke Arsip

Bagi banyak umat Islam, perjalanan menuju Baitullah bukan sekadar perjalanan fisik. Ia adalah perjalanan spiritual yang penuh harapan, penyesalan, doa, dan kerinduan untuk mendekat kepada Allah SWT. Di antara berbagai istilah yang sering kita dengar dalam dunia perjalanan ibadah adalah istilah Umroh Akbar.

Istilah ini sering digunakan untuk menggambarkan umroh yang dilaksanakan pada momentum tertentu yang memiliki nilai spiritual lebih kuat. Namun jika ditelusuri lebih dalam, makna Umroh Akbar tidak hanya berkaitan dengan waktu pelaksanaan, melainkan juga berkaitan dengan sejarah, makna ibadah, dan perjalanan spiritual umat Islam sejak masa Rasulullah ﷺ.

 

Hakikat Umroh dalam Sejarah Islam

Umroh merupakan salah satu ibadah yang sangat dianjurkan dalam Islam. Berbeda dengan haji yang memiliki waktu tertentu, umroh dapat dilakukan kapan saja sepanjang tahun.

Rasulullah ﷺ sendiri melaksanakan umroh beberapa kali sepanjang hidup beliau. Para ulama mencatat bahwa Rasulullah melakukan empat kali umroh, yaitu:

  1. Umroh Hudaibiyah (tahun 6 Hijriyah)

  2. Umroh Qadha (tahun 7 Hijriyah)

  3. Umroh dari Ji’ranah setelah Perang Hunain (tahun 8 Hijriyah)

  4. Umroh yang dilakukan bersamaan dengan Haji Wada (tahun 10 Hijriyah)

Peristiwa-peristiwa ini menunjukkan bahwa umroh bukan hanya ibadah ritual, tetapi juga bagian dari perjalanan dakwah dan sejarah Islam.

Umroh Hudaibiyah: Perjalanan yang Hampir Terhenti

Salah satu kisah paling penting dalam sejarah umroh terjadi pada tahun ke-6 Hijriyah, ketika Rasulullah ﷺ bersama sekitar 1.400 sahabat berangkat menuju Makkah dengan niat melaksanakan umroh.

Namun ketika sampai di daerah Hudaibiyah, kaum Quraisy menghalangi mereka memasuki kota Makkah. Situasi ini berujung pada Perjanjian Hudaibiyah, sebuah perjanjian damai antara kaum Muslimin dan Quraisy.

Secara lahiriah perjanjian ini tampak merugikan umat Islam. Namun dalam perjalanan sejarah, perjanjian tersebut justru membuka jalan bagi penyebaran Islam yang lebih luas.

Allah bahkan menyebut peristiwa ini sebagai “kemenangan yang nyata” dalam Al-Qur’an:

“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata.” (QS. Al-Fath: 1)

Peristiwa ini mengajarkan bahwa perjalanan menuju Baitullah tidak selalu mudah, tetapi selalu memiliki hikmah besar.

Umroh Qadha: Kembalinya Rasulullah ke Makkah

Setahun setelah Perjanjian Hudaibiyah, Rasulullah ﷺ kembali ke Makkah untuk melaksanakan Umroh Qadha, yaitu umroh pengganti yang sebelumnya tertunda.

Kali ini Rasulullah memasuki Makkah bersama para sahabat dengan penuh kewibawaan. Penduduk Quraisy menyaksikan kaum Muslimin melakukan thawaf dengan penuh kekuatan dan ketenangan.

Peristiwa ini menjadi simbol bahwa umat Islam telah bangkit dan memiliki kekuatan moral yang besar.

Makna “Akbar” dalam Ibadah

Dalam Al-Qur’an, istilah “akbar” sering digunakan untuk menggambarkan sesuatu yang memiliki makna besar dan agung.

Sebagai contoh, dalam Surah At-Taubah disebutkan tentang “Hari Haji Akbar”, yaitu momentum penting dalam ibadah haji yang memiliki makna besar bagi umat Islam.

Dalam konteks umroh, istilah Umroh Akbar sering digunakan untuk menggambarkan perjalanan umroh yang dilaksanakan pada momentum istimewa yang memperkuat nilai spiritual ibadah.

Namun hakikatnya, Umroh Akbar bukan hanya tentang waktu, melainkan tentang bagaimana seorang Muslim menjalani ibadah tersebut dengan kesadaran spiritual yang mendalam.

Umroh menjadi “akbar” ketika seseorang:

datang dengan niat yang tulus, merenungkan perjalanan hidupnya dan menjadikan perjalanan itu sebagai titik perubahan dalam hidupnya.

Madinah dan Awal Peradaban Islam

Perjalanan umroh hampir selalu diiringi dengan kunjungan ke Madinah, kota yang menjadi tempat Rasulullah ﷺ membangun masyarakat Islam pertama.

Di kota inilah berdiri Masjid Nabawi, tempat Rasulullah mengajarkan Al-Qur’an, memimpin umat, dan membangun fondasi peradaban Islam yang kemudian menyebar ke seluruh dunia.

Bagi para jamaah, Madinah bukan hanya kota bersejarah. Ia adalah tempat yang menghadirkan ketenangan, kerinduan, dan kedekatan dengan perjalanan hidup Rasulullah.

Umroh Akbar di Bulan Maulid

Di antara berbagai momentum yang memiliki makna spiritual kuat bagi umat Islam adalah bulan Maulid, yaitu bulan kelahiran Rasulullah ﷺ.

Bulan ini sering dijadikan waktu untuk memperbanyak ibadah, mengenang perjuangan Rasulullah, serta memperdalam kecintaan kepada beliau.

Melaksanakan umroh pada bulan Maulid menjadi pengalaman spiritual yang sangat istimewa, karena perjalanan menuju Baitullah dilakukan pada waktu yang mengingatkan umat Islam kepada kelahiran manusia yang membawa rahmat bagi seluruh alam.

Sebagai bagian dari upaya menghadirkan perjalanan ibadah yang bermakna, ABA Tour menghadirkan program Umroh Akbar di Bulan Maulid, yang direncanakan berangkat pada 27 Agustus 2026.

Program ini dirancang sebagai perjalanan ibadah yang tidak hanya berfokus pada pelaksanaan ritual umroh, tetapi juga pada penghayatan makna sejarah, kecintaan kepada Rasulullah, serta pengalaman spiritual yang mendalam di Tanah Suci.

Melalui perjalanan ini, para jamaah diajak untuk tidak sekadar berkunjung ke Makkah dan Madinah, tetapi juga menapaki jejak sejarah Rasulullah, merenungkan perjalanan hidup, serta memperkuat niat untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Karena pada akhirnya, perjalanan menuju Baitullah bukan sekadar perjalanan jarak dan waktu. Ia adalah perjalanan hati menuju kedekatan dengan Allah SWT.(*)