Tata Cara Tawaf Ibadah Haji dan Umrah Dengan Benar, Menyatu dalam Pusat Ibadah
Arsip Digital • Panduan Haji dan Umroh

Tata Cara Tawaf Ibadah Haji dan Umrah Dengan Benar, Menyatu dalam Pusat Ibadah

Aba Digital Library
Penulis Official Aba
Tahun 2026

Di tengah megahnya Masjidil Haram, jutaan manusia bergerak dalam satu arah, mengelilingi satu titik yang sama—Ka’bah. Inilah tawaf, sebuah ibadah yang bukan hanya gerakan fisik, tetapi juga simbol bahwa seluruh hidup seorang muslim berputar dalam ketaatan kepada Allah SWT.

Setiap langkah dalam tawaf adalah doa. Setiap putaran adalah harapan. Dan setiap detik menjadi saksi kedekatan seorang hamba dengan Rabb-nya.

Tata cara tawaf Haji dan Umrah

Apa Itu Tawaf?

Tawaf adalah ibadah mengelilingi Ka’bah sebanyak 7 putaran dengan posisi Ka’bah berada di sebelah kiri. Tawaf merupakan bagian penting dalam ibadah haji dan umrah yang harus dilakukan dengan tata cara yang benar agar sah secara syariat.

Syarat Sah Tawaf

Sebelum seorang jamaah melangkahkan kaki mengelilingi Ka’bah di Masjidil Haram, ada hal mendasar yang harus dipahami: tawaf bukan sekadar berjalan, tetapi ibadah yang memiliki syarat-syarat tertentu agar sah di sisi Allah SWT.

Syarat-syarat ini menjadi fondasi penting yang memastikan bahwa setiap putaran yang dilakukan bukan hanya sah secara gerakan, tetapi juga diterima secara syariat. Tanpa memenuhi syarat ini, tawaf yang dilakukan bisa menjadi tidak sempurna, bahkan tidak sah.

Berikut penjelasan lengkapnya:

  1. Suci dari Hadas Kecil dan Besar

    Seorang jamaah harus dalam keadaan suci dari hadas, baik hadas kecil maupun besar. Artinya, jamaah harus memiliki wudhu sebagaimana saat hendak melaksanakan shalat.

    Hal ini karena tawaf memiliki kedudukan yang sangat mulia, bahkan para ulama menyebutnya sebagai “shalat dalam bentuk gerakan mengelilingi Ka’bah”, meskipun diperbolehkan berbicara di dalamnya.

    Rasulullah ﷺ bersabda: “Tawaf di Ka’bah itu seperti shalat, hanya saja kalian boleh berbicara di dalamnya.” (HR. Tirmidzi)

  2. Suci dari Najis pada Badan, Pakaian, dan Tempat

    Selain suci dari hadas, jamaah juga harus memastikan bahwa tubuhnya bersih dari najis, pakaian yang digunakan suci juga area yang digunakan untuk tawaf juga bersih.

    Ini menunjukkan bahwa Islam sangat menekankan kebersihan, terutama dalam ibadah. Tawaf bukan hanya gerakan spiritual, tetapi juga mencerminkan kesucian lahir dan batin.

  3. Menutup Aurat dengan Sempurna

    Menutup aurat adalah syarat sah tawaf sebagaimana dalam shalat. Laki-laki minimal menutup antara pusar hingga lutut dan Perempuan menutup seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan

    Meski dalam tawaf laki-laki dianjurkan melakukan idtiba’ (membuka bahu kanan), hal ini tetap dalam batas yang tidak melanggar ketentuan aurat.

  4. Dilakukan di Dalam Area Masjidil Haram

    Tawaf harus dilakukan di dalam kawasan Masjidil Haram, yaitu area yang mengelilingi Ka’bah. Seiring perkembangan zaman, area Masjidil Haram semakin luas. Oleh karena itu, jamaah boleh melakukan tawaf:

    • Di lantai dasar

    • Di lantai atas

    • Bahkan di area perluasan

    Selama masih termasuk bagian dari Masjidil Haram dan mengelilingi Ka’bah, maka tawaf tersebut sah.

  5. Ka’bah Harus Berada di Sebelah Kiri

    Selama melakukan tawaf, posisi Ka’bah harus selalu berada di sebelah kiri jamaah. Ini bukan sekadar arah berjalan, tetapi bagian dari tata cara yang telah dicontohkan oleh Rasulullah ﷺ.

    Jika seseorang berjalan dengan posisi Ka’bah tidak di sebelah kiri (misalnya terbalik arah), maka putaran tersebut tidak dihitung sebagai tawaf yang sah.

Tata Cara Tawaf yang Benar

Melaksanakan tawaf bukan hanya soal berjalan mengelilingi Ka’bah, tetapi tentang bagaimana setiap langkah dilakukan dengan kesadaran, adab, dan tuntunan yang benar. Di tengah suasana sakral Masjidil Haram, setiap jamaah diajak untuk benar-benar hadir—secara fisik dan hati.

Berikut tata cara tawaf yang benar dan lebih rinci:

  1. Memulai Tawaf dari Hajar Aswad Dibarengi dengan Niat

    Tawaf dimulai dari arah Hajar Aswad, dan pada saat itulah jamaah meneguhkan niat dalam hati untuk melaksanakan tawaf. Jadi, niat tidak dilakukan setelah berjalan, tetapi sudah hadir sejak awal ketika sejajar dengan Hajar Aswad.

    Saat berada sejajar dengan Hajar Aswad, disunnahkan mencium Hajar Aswad jika memungkinkan tanpa menyakiti jamaah lain. Dan jika tidak memungkinkan, cukup menyentuhnya, jika masih sulit, cukup memberi isyarat dengan tangan sambil mengucapkan “Allahu Akbar”.

  2. Mengelilingi Ka’bah Sebanyak 7 Putaran dengan Tertib

    Jamaah mulai bergerak mengelilingi Ka’bah dengan posisi Ka’bah selalu berada di sebelah kiri. Tawaf dilakukan sebanyak 7 putaran penuh, dimulai dan diakhiri di Hajar Aswad.

    Perlu diperhatikan:

    • Satu putaran dihitung dari Hajar Aswad kembali ke Hajar Aswad

    • Tidak boleh kurang atau lebih dari 7 putaran

    • Jika ragu, ambil jumlah yang paling yakin (yang lebih sedikit)

    Setiap putaran bukan sekadar hitungan, tetapi perjalanan mendekat kepada Allah.

  3. Menjaga Irama Langkah dan Adab di Tengah Keramaian

    Tawaf sering dilakukan dalam kondisi ramai. Oleh karena itu, menjaga adab menjadi sangat penting:

    • Tidak berdesakan secara berlebihan

    • Tidak mendorong atau menyakiti jamaah lain

    • Mengikuti arus dengan tenang

    • Bersabar dalam setiap langkah

    Kesabaran saat tawaf adalah bagian dari ibadah itu sendiri.

  4. Melakukan Ramal dan Idtiba’ (Bagi Laki-laki)

    Bagi laki-laki, terdapat dua sunnah yang dianjurkan saat tawaf umrah (Ramal) yaitu berjalan dengan langkah cepat (seperti lari kecil) pada 3 putaran pertama, jika kondisi memungkinkan.

    Dan Idtiba’ yaitu Membuka bahu kanan dengan cara, selendang ihram diletakkan di bawah ketiak kanan, ujungnya disampirkan ke bahu kiri. Ini dilakukan selama tawaf dan dikembalikan normal setelah selesai.

  5. Menghidupkan Tawaf dengan Doa dan Dzikir

    Tidak ada bacaan khusus yang wajib di setiap putaran. Justru inilah keindahan tawaf—kebebasan berdoa.

    Jamaah dapat:

    • Membaca dzikir (Subhanallah, Alhamdulillah, Allahu Akbar)

    • Membaca Al-Qur’an

    • Berdoa dengan bahasa sendiri

    Namun, terdapat doa yang sangat dianjurkan antara Rukun Yamani dan Hajar Aswad: yaitu “Rabbana atina fid-dunya hasanah, wa fil-akhirati hasanah, wa qina ‘adzaban nar.” (HR. Abu Dawud)

  6. Menyentuh atau Mengisyaratkan Rukun Yamani

    Ketika melewati Rukun Yamani:

    • Disunnahkan menyentuhnya (tanpa mencium) jika memungkinkan

    • Jika tidak memungkinkan, tidak perlu memberi isyarat

    Ini berbeda dengan Hajar Aswad yang dianjurkan untuk diisyaratkan jika tidak bisa disentuh.

  7. Menutup Tawaf dengan Shalat Sunnah

    Setelah menyelesaikan 7 putaran, jamaah dianjurkan melaksanakan shalat sunnah 2 rakaat.

    Jika memungkinkan, dilakukan di dekat Maqam Ibrahim. Namun jika penuh, bisa dilakukan di area mana saja di Masjidil Haram. Allah SWT berfirman: “Dan jadikanlah Maqam Ibrahim sebagai tempat shalat.” (QS. Al-Baqarah: 125)

  8. Minum Air Zamzam dan Berdoa

    Setelah tawaf, disunnahkan, Meminum air zamzam sambil berdoa dengan penuh harap. Air zamzam bukan sekadar air, tetapi bagian dari keberkahan yang mengiringi ibadah di Tanah Suci.

Tawaf bukan hanya mengelilingi Ka’bah di Masjidil Haram, tetapi juga perjalanan hati untuk mendekat kepada Allah SWT. Dengan memahami tata cara dan syaratnya, setiap putaran menjadi lebih bermakna dan sah secara syariat.

Lebih dari itu, tawaf mengajarkan bahwa hidup seorang muslim harus selalu berpusat pada Allah—dalam setiap langkah, doa, dan keputusan.