Umrah Sunnah Dibatasi 3 Kali, PPIH Arab Saudi Mulai Memperketat Aktivitas Jemaah Jelang Puncak Haji

ABA
Admin ABA Tour

Suasana di dalam Masjidil Haram. (Tempo Foto)

MAKKAH – Menjelang fase paling menentukan dalam rangkaian ibadah haji, Petugas Penyelenggara Ibadah Haji atau PPIH Arab Saudi mulai memperketat pengaturan aktivitas jemaah di Tanah Suci. Salah satu kebijakan yang kini menjadi perhatian adalah pembatasan pelaksanaan umrah sunnah maksimal tiga kali sebelum jemaah memasuki fase Arafah, Muzdalifah, dan Mina atau Armuzna.

Kebijakan ini bukan semata pembatasan aktivitas ibadah, melainkan bagian dari ikhtiar menjaga kondisi fisik jemaah agar tetap prima. Sebab, Armuzna dikenal sebagai puncak ibadah haji yang membutuhkan kesiapan stamina, konsentrasi, kesabaran, dan ketahanan tubuh yang jauh lebih besar dibandingkan rangkaian ibadah sebelumnya.

Kepala Seksi Bimbingan Ibadah dan KBIHU PPIH Arab Saudi Daerah Kerja Makkah, Erti Herlina, meminta seluruh pimpinan dan pembimbing Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah atau KBIHU untuk mematuhi ketentuan yang telah ditetapkan oleh pemerintah Arab Saudi maupun PPIH.

“Kami mengimbau untuk tetap mengikuti aturan yang sudah kami tetapkan di Arab Saudi terkait kegiatan city tour dan juga umrah sunnah,” ujar Erti kepada tim Media Center Haji di Makkah, Rabu, 6 Mei 2026.

Menurut Erti, pembatasan umrah sunnah dilakukan agar jemaah tidak terlalu lelah sebelum menjalani rangkaian ibadah puncak. Karena itu, KBIHU diminta memberikan pemahaman kepada jemaah bahwa menjaga tenaga juga merupakan bagian penting dari ikhtiar menyempurnakan ibadah haji.

“Kepada para pimpinan KBIHU, mohon terus memberikan edukasi kepada para jemaah, memberikan pengertian bahwa saat ini KBIHU hanya mengizinkan pelaksanaan umroh sunnah sebanyak tiga kali, maksimal tiga kali pra Armuzna,” katanya.

Selain umrah sunnah, PPIH juga membatasi kegiatan ziarah atau city tour, khususnya yang dilakukan ke luar Kota Makkah sebelum fase Armuzna. Ketentuan tersebut tertuang dalam Surat Edaran Nomor S-88/BN/2026 tentang Larangan Pelaksanaan Ziarah atau City Tour bagi Jemaah Haji Sebelum Fase Armuzna Tahun 1447 H/2026 M.

Dalam surat edaran tersebut, PPIH menegaskan bahwa fase Armuzna menuntut kesiapan fisik dan stamina yang optimal. Karena itu, aktivitas tambahan yang berpotensi menguras tenaga perlu dikendalikan agar jemaah tidak mengalami kelelahan sebelum menjalani wukuf di Arafah, mabit di Muzdalifah, hingga rangkaian ibadah di Mina.

Kementerian Haji dan Umrah RI juga mendorong agar pendampingan kepada jemaah lebih difokuskan pada kesiapan fisik, mental, dan spiritual. Dengan begitu, jemaah tidak hanya sibuk menjalani aktivitas tambahan, tetapi benar-benar dipersiapkan untuk menghadapi inti dari perjalanan haji.

Erti menambahkan, setiap kegiatan yang tetap dilaksanakan KBIHU, baik umrah sunnah maupun city tour di dalam Kota Makkah, wajib dikoordinasikan dengan petugas sektor dan PPIH. KBIHU juga diminta membuat surat pernyataan yang ditembuskan kepada Kepala Sektor.

“Bagi para pimpinan KBIHU, para pembimbing ibadah KBIHU yang akan melaksanakan umrah sunnah maupun city tour di dalam Kota Makkah, mohon untuk membuat surat pernyataan yang nanti ditembuskan kepada Kasektor,” ujarnya.

Surat tersebut harus memuat tujuan kegiatan serta jumlah jemaah yang ikut serta. Langkah ini dilakukan agar aktivitas jemaah lebih mudah dipantau, sekaligus memastikan keamanan dan kondisi kesehatan tetap terjaga selama berada di Tanah Suci.

Kebijakan ini menjadi pengingat penting bahwa ibadah haji bukan hanya tentang banyaknya aktivitas yang dilakukan, tetapi juga tentang kemampuan menjaga keseimbangan antara semangat beribadah dan kesiapan menjalani puncak rukun haji. Dalam kondisi jutaan jemaah berkumpul di waktu dan tempat yang sama, kedisiplinan mengikuti arahan petugas menjadi bagian dari ikhtiar menjaga keselamatan bersama.

Bagi jemaah, momentum menjelang Armuzna sebaiknya dimanfaatkan untuk memperbanyak istirahat, menjaga pola makan, memperkuat doa, serta mempersiapkan hati agar lebih khusyuk saat memasuki puncak haji. Sebab, di Arafah, Muzdalifah, dan Mina, setiap langkah bukan hanya membutuhkan tenaga, tetapi juga kesabaran, ketenangan, dan kesiapan spiritual yang matang.(*/ABA-001)